Di Bali, ada banyak hari suci yang diwariskan oleh leluhur. Sebagian dijalankan sebagai tradisi, sebagian lagi hanya dilakukan karena “memang dari dulu begitu”. Tetapi di antara semua itu, ada satu hari yang sebenarnya menyimpan pesan sangat dalam tentang hubungan manusia dengan alam: Tumpek Wariga.
Sebagian orang menyebutnya Tumpek Uduh. Ada juga yang mengenalnya sebagai Tumpek Bubuh. Hari raya untuk tumbuh-tumbuhan. Hari ketika pohon diberi sesajen, batangnya ditempeli bubur dan porosan, akarnya diperciki tirta, dan manusia berbicara kepada tanaman seolah mereka adalah makhluk hidup yang bisa mendengar.
Banyak orang modern melihat ini hanya sebagai ritual biasa. Sebuah budaya. Sebuah tradisi turun-temurun.
Padahal jika dipahami lebih dalam, Tumpek Wariga adalah salah satu pengetahuan paling canggih yang diwariskan tetua Bali tentang kehidupan, alam, dan kesadaran manusia.
Dan mungkin… kita sudah terlalu jauh melupakannya.
Leluhur Bali Tidak Pernah Memisahkan Manusia dan Alam
Hari ini manusia hidup seolah dirinya terpisah dari alam. Kita merasa lebih tinggi dari pohon, lebih penting dari tanah, lebih berkuasa dari air dan udara.
Padahal leluhur Bali melihat dunia dengan cara yang sangat berbeda.
Bagi mereka, manusia bukan penguasa alam. Manusia hanyalah bagian kecil dari denyut besar kehidupan semesta.
Karena itulah Tumpek Wariga hadir.
Ia bukan sekadar “hari raya tumbuhan”. Ia adalah pengingat bahwa tanpa alam, manusia tidak akan pernah hidup.
Makanan datang dari tanah. Udara datang dari pohon. Air dijaga oleh hutan. Bahkan tubuh manusia sendiri berasal dari unsur-unsur alam.
Tetua Bali memahami ini jauh sebelum dunia modern berbicara tentang environmentalism, sustainability, atau climate change.
Tumpek Wariga adalah cara leluhur Bali melestarikan alam.
Tetapi mereka tidak melakukannya dengan seminar. Tidak dengan kampanye. Tidak dengan slogan.
Mereka menanamkannya lewat ritual, simbol, dan rasa hormat.
Karena mereka tahu: sesuatu yang hanya masuk ke kepala akan mudah dilupakan, tetapi sesuatu yang masuk ke hati akan diwariskan turun-temurun.
Sehe: Cara Leluhur Bali Berkomunikasi Dengan Alam
Ada satu hal yang sangat menarik dalam Tumpek Wariga.
Pada hari itu, orang Bali tidak hanya memberi sesajen kepada pohon. Mereka juga mengucapkan sehe kepada tumbuhan.
Sehe adalah ucapan atau mantra lokal yang disampaikan langsung kepada pohon saat Tumpek Wariga berlangsung. Salah satu ucapan yang paling dikenal adalah:
“Nini… Nini… Buin selae dina Galungan. Mabuah apang nged… nged… nged…”
Jika diterjemahkan secara sederhana, ucapan ini adalah harapan agar pohon-pohon berbuah lebat menjelang Hari Raya Galungan.
Tetapi sebenarnya maknanya jauh lebih dalam dari sekadar meminta buah.
Di sini terlihat jelas bagaimana leluhur Bali mengajarkan manusia untuk berbicara dengan alam.
Bukan simbolis. Bukan sekadar formalitas ritual.
Tetapi benar-benar membangun hubungan dengan kehidupan di sekitar mereka.
Pohon dipanggil seperti keluarga sendiri. Disapa dengan lembut. Diajak “berkomunikasi”.
Hal ini menunjukkan bahwa tetua Bali tidak pernah melihat alam sebagai benda mati.
Pohon dianggap memiliki kehidupan. Memiliki energi. Memiliki rasa.
Dan mungkin inilah salah satu pengetahuan paling tua yang hampir hilang di dunia modern: bahwa manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam, bukan hanya mengambil darinya.
Hari ini manusia berbicara dengan layar setiap hari, tetapi lupa berbicara dengan alam yang memberinya kehidupan.
Tentang Bubur Merah Putih: Kama Bang dan Kama Petak
Ada simbol penting dalam Tumpek Wariga yang sering dilihat, tetapi jarang dipahami.
Yaitu bubur sumsum merah dan putih yang dibuat masyarakat Bali saat perayaan ini berlangsung.
Dalam pemahaman Bali kuno, merah dan putih dikenal sebagai Kama Bang dan Kama Petak.
Sebagian orang mungkin hanya melihatnya sebagai pelengkap upacara biasa. Tetapi sebenarnya simbol ini menyimpan makna yang sangat dalam tentang asal mula kehidupan.
Merah dan putih melambangkan benih kehidupan.
Awal mula denyut yang melahirkan keberadaan.
Kama Bang dan Kama Petak adalah simbol tentang dua unsur kehidupan yang kemudian melahirkan keseimbangan dan keberadaan seluruh makhluk di alam semesta.
Karena itu bubur merah putih dalam Tumpek Wariga bukan sekadar makanan ritual.
Ia adalah pengingat tentang akar kehidupan itu sendiri.
Tentang bagaimana seluruh kehidupan di dunia ini sebenarnya berasal dari sumber yang sama.
Di pohon. Di manusia. Di hewan. Di tanah. Di seluruh semesta.
Tetua Bali tampaknya ingin mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari alam. Semua saling terhubung oleh “akar” kehidupan yang sama.
Dan mungkin karena itulah Tumpek Wariga bukan hanya bicara tentang pohon, tetapi tentang kesadaran manusia untuk kembali mengenali asal-usul kehidupannya.
Mengapa Leluhur Menaruh Ritual Ini Pada Pohon?
Pertanyaan ini menarik.
Kenapa bukan batu? Kenapa bukan sungai? Kenapa pohon?
Karena pohon adalah representasi kehidupan yang paling jelas.
Ia diam, tetapi memberi kehidupan. Ia tidak bergerak, tetapi menopang dunia. Ia tidak meminta apa-apa, tetapi memberi segalanya.
Pohon menghasilkan udara tanpa meminta bayaran. Memberi buah tanpa memilih siapa yang makan. Memberi keteduhan bahkan kepada orang yang pernah melukainya.
Mungkin leluhur Bali melihat pohon sebagai guru terbesar tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.
Dan manusia diajak belajar dari sana.
Tumpek Wariga dan Krisis Manusia Modern
Hari ini manusia mengalami banyak krisis.
Hutan rusak. Air tercemar. Tanah kehilangan kesuburan. Udara semakin panas.
Tetapi sebenarnya krisis terbesar bukan hanya kerusakan alam.
Krisis terbesar adalah manusia sudah kehilangan hubungan dengan alam.
Kita hidup di zaman ketika hutan ditebang besar-besaran demi kepentingan ekonomi. Alam dilihat hanya sebagai sumber daya yang bisa diambil sebanyak mungkin.
Kita bisa melihat bagaimana banyak wilayah hutan di Papua mengalami kerusakan akibat eksploitasi skala besar. Hutan-hutan yang selama ribuan tahun menjadi rumah kehidupan perlahan hilang demi industri dan keuntungan.
Padahal ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon.
Yang hilang adalah sumber air. Yang hilang adalah udara bersih. Yang hilang adalah keseimbangan hidup manusia itu sendiri.
Ironisnya, leluhur Bali sebenarnya sudah mengingatkan semua ini sejak lama melalui Tumpek Wariga.
Mereka mengajarkan bahwa pohon bukan objek eksploitasi.
Pohon adalah bagian dari kehidupan yang harus dihormati.
Di titik inilah Tumpek Wariga menjadi sangat relevan.
Ia bukan tradisi kuno yang usang.
Ia adalah pengingat bahwa ketika manusia berhenti menghormati alam, sebenarnya manusia sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Rahasia yang Hampir Terlupakan
Mungkin inilah rahasia terbesar yang ingin diwariskan tetua Bali:
Bahwa spiritualitas bukan hanya tentang sembahyang di pura.
Tetapi tentang bagaimana manusia memperlakukan kehidupan di sekitarnya.
Bagaimana ia menyentuh tanah. Bagaimana ia memandang pohon. Bagaimana ia berbicara kepada alam. Bagaimana ia menyadari bahwa dirinya hanyalah satu denyut kecil dari denyut besar alam semesta.
Tumpek Wariga bukan sekadar ritual.
Ia adalah cara berpikir. Cara merasa. Cara memahami kehidupan.
Dan mungkin… leluhur Bali sudah mengetahui sesuatu yang baru mulai disadari manusia modern hari ini:
Bahwa alam bukan sesuatu yang harus ditaklukkan.
Tetapi sesuatu yang harus diajak hidup bersama.
Kasurat olih: Kawit Yowana, Saniscara Kliwon - Saka 1948
Komentar