Siwa Purana Bagian 4

Kartikeya

Anaknya Siwa dan Parvati bernama Skanada atau biasa disebut juga Kartikeya. Ketika ia masih bayi Ia pernah jatuh dan hilang di rerumpunan ilalang. Akhirnya 6 orang putri menemukannya di rerumpunan ilalang tersebut dan masing-masing ingin memilikinya sebagai anaknya sendiri. Akhirnya mereka bekerjasama untuk mengasuhnya bersama-sama. Putri-puri adalah bangsa Krittika dan anak itu selanjutnya dikenal dengan nama Kartikeya.

Para Dewa diinformasikan oleh Narada, bahwa Kartikeya telah diasuh oleh Putri-putri dari bangsa Krittika. Para Dewa datang menjemputNya dan segera mengangkat Kartikeya sebagai jenderal perang para Dewa. Pasukan para Dewa menyerang Kerajaan Tarakasura yang bernama Shoniputra. Perang yang dahsyat berlangsung selama 10 hari. Pasukan Dewa berhasil mengalahkan Pasukan Raksasa dan Kartikeya berhasil membunuh Tarakasura. Setelah pesta perayaan kemenangan berlangsung, Kartikeya akhirnya dapat bersatu kembali dengan orang tuanya yaitu Siwa dan Parvati.

Tripura

Tarakasura mempunyai tiga putra, yang pertama bernama Vidyunmali, yang keduaTarakaksha dan yang terakhir Virvavana.Ketiga putra Tarakasura ini melaksanakan tapa.Selama ratusan tahun mereka bermeditasi berdiri di atas satu kaki. Untuk 1000 tahuan berikutnya mereka bermeditasi di udara. Mereka bermeditasi dengan posisi kepala terbalik untuk 1000 tahun berikutnya.

Brahma gembira melihat usaha mereka yang melaksanakan tapa yang sangat berat. Brahma muncul di hadapan mereka dan berkata ” Sebutkan permintaan kalian.” “Berikan kami keabadian!” sahut mereka. “Aku tidak bisa memberikan kalian keabadian, Aku tidak punya wewenang akan hal tersebut, mintalah berkat yang lain ”

“Baiklah!” sahut Vidyunmali, Tarakaksha dan Viryayana, “berkati kami atas permintaan kami ini.” “Berikanlah kami tiga benteng. benteng pertama terbuat dari emas, yang kedua terbuat dari perak dan yang ketiga terbuat dari besi.””Kami hidup di balik benteng tersebut selama 1000 tahun. “di akhir 1000 tahun tersebut ketiga benteng tersebut bergabung menjadi satu. Gabungan ketiga benteng ini akan dinamakan Tripura. Dan jika ada yang bisa menghancurkan benteng tersebut dengan sebuah panah, maka saat itulah kematian akan menjemput kami.

Permintaan yang aneh ini akhirnya disetujui oleh Brahma. Ada sesosok makhluk dari bangsa Danava yang bernama Maya, yang sangat ahli di bidang bangunan. Brahma memintanya untuk membangun benteng-benteng tersebut. Benteng emas dibangun di Sorga, Benteng perak di angkasa dan benteng besi dibangun di bumi. Tarakaksha memndapat benteng emas, Viryayana mendapat benteng perak dan Vidyunmali mendapat benteng besi. Setiap benteng merupakan sebuah kota besar dan mempunyai banyak istana juga dilengkapi dengan kendaraan Vimana (kendaraan terbang) di dalamnya.

Para raksas berkembang di ketiga benteng tersebut dan populasinya mulai berkembang dengan pesat. Para Dewa merasa terancam atas kejadian ini. Pertama mereka mendatangi Brahma, tetapi Brahma menyatakan tidak dapat menolong mereka. Karena ketiga raksasa tersebut mendapatkan benteng tersebut akibat berkat dari Brahma atas tapasyanya yang berat. Para Dewa lalu mendatangi Siwa untuk meminta bantuan. Namun Siwa menyatakan bahwa para Raksasa tersebut belum melakukan perbuatan yang salah, kenapa harus diserang. Jika keadaanya tetap begitu para Dewa sebaiknya menenangkan dirinya sendiri. Para Dewa lalu mendatangi Wisnu. Wisnu menyatakan jika para Raksasa tersebut tidak melakukan perbuatan yang salah, maka kita akan berdosa jika harus membunuhnya.

Dengan kekuatanNya, Wisnu menciptakan seorang manusia. kepalanya gundul, bajunya kumal dan ia membawa pot air kayu di tangannya. Dia menutup mulutnya dengan kain dan mulai mendekati Wisnu. “Apa tugasku, wahai Wisnu yang agung?” tanyanya kepada Wisnu.

”Aku akan menjelaskan kenapa kamu diciptakan.” jawab Wisnu. Aku akan mengajarkan kamu tentang suatu Agama (kepercayaan) yang sama sekali bertentangan dengan Veda. Setelah mendapat pengajaran ini, kamu akan mendapat kesan bahwa Sorga dan Neraka tersebut tidak ada dan keduanya berada di bumi. Kamu tidak akan percaya dengan pahala dan hukuman (karmaphala) sebagai suatu hasil perbuatan kita di dunia yang kita pertanggung jawabkan setelah kita mati. Pergilah ke Tripura dan ajarkan agama ini kepada para raksasa, sehingga mereka akan menyimpang dengan ajaran Agama yang benar (Veda). Maka kita akan dapat melakukan sesuatu terhadap Tripura.

Makhluk tersebut melakukan seperti yang telah diperintahkan oleh Wisnu. Ia dan keempat muridnya pergi ke hutan dekat Tripura dan mulai mengajarkan agama (palsu) tersebut. Mereka telah diajarkan langsung oleh Wisnu. Maka, maka dari itu ajaran mereka sangat meyakinkan dan banyak penduduk Tripura yang percaya terhadap ajaran tersebut. Bahkan Rsi Narada pun yakin dan mempercayai ajaran tersebut.

Kenyataannya, bahwa Narada-lah yang membawa pesan tentang keberadaan agama baru ini kepada Raja Vidyunmati. “Oh raja yang Agung”Ujarnya, “telah hadir seorang guru yang sangat hebat dan membawa suatu ajaran agama baru yang sangat indah. bahkan aku sendiri belum pernah mendengarnya, akan tetapi aku mepercayai dan meyakini bahwa inilah ajaran agama yang paling sempurna.

Melihat Rsi Narada sangat mempercayai agama baru tersebut, Vidyunmati juga menerima agama baru tersebut. Ketika sang makhluk tersebut mengajarkan agama baru terhadap Raja Vidyunmati, Tarakaksha dan Viryayana pun ikut serta. Para raksasa mulai meninggalkan agama veda dan muali berhenti memuja Lingga-Nya Siwa.

Wisnu dan para dewa yang lain pergi menemui Siwa dan mulai memuja-Nya. Ketika Siwa muncul di hadapan mereka, mereka mengatakan bahwa sekarang para Raksasa melakukan kejahatan dan harus dihancurkan. Mereka bahkan berhenti memuja Lingga-Nya Siwa.

Dhiva setuju untuk menghancurkan Tripura. Vishvakarma adalah arsitek dari Para Dewa. Siwa memanggil Vishvakarma dan menyuruhnya membangun sebuah kereta perang, busur dan panah. Kereta perang tersebut seluruhnya terbuat dari emas. Brahma sendiri menjadi kusir dari kereta tersebut dan kecepatan kereta sangat luar biasa sehingga dapat menuju Tripura dalam sekejap. Para Dewa menemani Siwa dengan melengkapi diri dengan senjata lengkap.

1000 tahun telah berlalu maka ketiga benteng tersebut telah menjadi satu menjadi satu Tripura. Siwa memasang senjata panah yang bernama Pashupata pada busur panah-Nya dan muali membidik Tripura. Panah tersebut membakar Tripura dalam sekejap.

ketika perayaan kemenangan dilangsungkan oleh para dewa, pendeta gundul (makhluk ciptaan Wisnu) pun datang. “Apa yang harus hamba laksanakan sekarang” tanyanya pada Wisnu. Brahma dan Wisnu memerintahkan pendeta tersebut untuk pergi dan tinggal di gurun pasir. Kelak pada akhir dari keempat masa (yuga), pada masa yang dinamakan kaliyuga dimana kejahatan akan tumbuh menjadi suatu yang superior. Pada saat itulah, mereka akan kembali dan memulai menyebarkan agama (palsu) ini kembali.

(Berlanjut ke Bagian 5 ...)